Perlahan adalah kecepatan yang baru

Pemahaman populer tentang sains selalu berkisar pada cerita-cerita kejeniusan para saintis serta “temuan-temuan” mereka yang dirangkum dalam rumus-rumus dan bagaimana “temuan-temuan” tersebut merubah dunia ekonomi-material dan, pada level tertentu, dunia sosial-simbolik di mana manusia berada. Cerita-cerita tentang perkembangan sains selalu berfokus pada individu-individu seolah-olah gagasan-gagasan brilian dari sang saintis datang begitu saja dari dalam kepala saintis dan keluar menjadi rumus-rumus matematik yang rumit yang hanya bisa dimengerti oleh yang memiliki kejeniusan yang setingkat. Tanpa mengurangi peran individual para saintis yang telah merubah dunia ini, tulisan ini mengajak untuk melihat sains dan pengetahuan yang dihasilkannya sebagai suatu proses kultural.

Satu alasan kuat mengapa kita perlu melakukan penelaahan sains secara kultural adalah untuk melakukan demistifikasi sains yang terlalu ketat oleh dogma keilmiahannya seakan-akan dia senantiasa bebas nilai. Pernyataan sains sebagai bebas nilai berimplikasi pada doktrin bahwa sains adalah netral dan bersifat universal. Netral dalam arti dia tidak berpihak kepada siapapun dan lepas dari berbagai kepentingan ekonomi dan politik. Universal dalam arti dia berlaku di mana saja melewati batas geografi, sosial, budaya, ekonomi, politik. Tetapi dibalik dua doktrin inilah sains moderen melakukan hegemoni sistem pengetahuan secara global dan mematikan sistem pengetahuan lainnya yang selalu diidentikkan dengan keterbelakangan, takhyul, irasional, dan kebodohan. Dalam tulisan ini, dua doktrin sains ini akan dikaji ulang.

Apakah sains itu? Dalam makna generiknya, sains selalu dikaitkan dengan upaya manusia untuk mencari tahu tentang suatu fenomena. Cara mencari tahu ini tidak lepas dari proses interpretasi manusia terhadap fenomena tersebut. Dari pemahaman inilah dibentuk sebuah sistem pengetahuan yang meliputi obyek pengetahuan, metode, dan model interpretasi. Pada dasarnya, inti dari suatu sistem pengetahuan adalah aktivitas representasi di mana pengamat (saintis) menginterpretasi gejala-gejala alam yang kemudian dimodelkan ke dalam bahasa sains (yang dalam sains moderen menggunakan model matematik). Satu hal yang perlu dicermati disini. Suatu obyek pengetahuan hanya dapat eksis melalui representasi. Proses interpretasi dan representasi ini tidaklah terjadi begitu saja secara obyektif di mana saintis dengan serta merta “menemukan” sesuatu seakan-akan obyek pengetahuan itu sudah ada sebelumnya. Obyek pengetahuan itu adalah hasil konstruksi interpretatif saintis melalui bahasa sementara bahasa itu sendiri memiliki keterbatasan. Obyek pengetahuan itu menjadi seakan-akan nyata karena dia berhubungan langsung dengan sesuatu yang sifatnya konkrit di mana metodologi ilmiah (logika-empirisme) memungkinkan terjadinya perulangan realitas (regularitas) melalui praktek simulasi, manipulasi, dan kontrol.

***

Berangkat dari pemahahaman ini, mari kita menengok ke penjelasan teoritis tentang konstruksi kultural sains dari Timothy Lenoir yang merupakan antitesa terhadap sosiologi sains yang dikembangkan oleh Robert Merton dan Joseph Ben-David. Secara garis besar, sosiologi sains versi Merton dan Ben-David berlandaskan pada dua gagasan. Pertama adalah realisme, yakni keyakinan bahwa kita berada pada dunia yang diisi oleh obyek-obyek riil dan kebenaran yang dibangun oleh sains memiliki korelasi langsung dengan realitas dunia ini. Kedua adalah obyektivitas, yakni keyakinan bahwa fakta-fakta obyektif mengenai realitas dunia itu hadir dan bebas dari interpretasi manusia (independent reality). Dari pamahaman atas dua gagasan ini, Merton dan Ben-David mengasumsikan proses sains sebagai proses akumulatif dan tumbuh secara terus menerus dalam mencari kebenaran secara linear. Selain itu, pengetahuan yang dihasilkan oleh sains lepas dari konteks produksi dan kondisi reproduksi dan distribusinya.

Bagi Lenoir, ketiadaan kepentingan (disinterestedness) dan otonomi (autonomy) sains seperti yang dilontarkan Merton dan Ben-David sukar diterima. Kedua gagasan itu tidak lebih dari idealisasi yang secara artifisial diberikan kepada individu yang terkait dengan proses konstruksi pengetahuan. Menentang konsepsi Merton dan Ben-David, menurut Lenoir, pengetahuan yang dihasilkan oleh sains selalu terkait erat dengan situasi di mana dia berada, serta bersifat lokal dan parsial. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa proses konstruksi pengetahuan sangat dipengaruhi oleh relasi yang kuat antara obyek pengetahuan dan pengamat (saintis). Bagi Lenoir, seperti yang dijelaskan di atas, pengetahuan adalah suatu bentuk interpretrasi yang melibatkan ikatan terhadap dunia yang bersifat sementara, bukan proses kontemplatif yang lepas dari berbagai konteks. Dengan demikian adalah logis jika mengatakan bahwa pengetahuan sudah tentu sarat dengan berbagai kepentingan.

Untuk menjelaskan bagaimana pengetahuan bermuatan kepentingan, Lenoir mengajak kita untuk melihat produksi pengetahuan sebagai suatu praktek kultural. Dalam proses pengetahuan, saintis tidak pernah lepas dari dua faktor yang melingkupinya, yakni kognitif dan sosial sebagai konsekuensi dari keberadaanya sebagai manusia berfikir dan berinteraksi. Faktor kognitif dan faktor sosial inilah yang mempengaruhi secara kuat proses interpretasi saintis terhadap suatu obyek pengetahuan. Melalui faktor kognitif, saintis melakukan pengamatan terhadap suatu obyek secara interpretatif. Sementara dalam faktor sosial, saintis selalu terkoneksi dengan kerangka sosial ekonomi di mana dia berada. Dari dua faktor ini, Lenoir berkesimpulan bahwa konstruksi pengetahuan dapat dikatakan sebagai suatu upaya untuk melegitimasi suatu versi realitas yang diterima oleh kelompok sosial dimana saintis itu berada.

Dari analisis konstruksi pengetahuan secara mikro, Lenoir melanjutkan analisisnya ke tingkat makro. Pada tingkat ini, Lenoir menunjukkan bagaimana perkembangan sains dikelilingi oleh kepentingan-kepentingan sosial, ekonomi, dan politik secara lebih luas. Dalam analisis ini, sains mengalami fragmentasi atas berbagai disiplin yang saling berhadapan satu sama lainnya. Setiap disiplin (fisika partikel, biologi molekuler, kimia organik, dsb) memiliki sistem logika dan model institusi serta struktur kekuasaan masing-masing. Di sini Lenoir melihat relasi antara kekuasaan dan pengetahuan yang berada dalam disiplin tersebut. Tetapi struktur kekuasaan disiplin-disiplin tersebut tidaklah otonom melainkan tunduk pada kekuasaan yang lebih besar, yakni kekuasaan ekonomi dan politik. Dan di sinilah letak seluruh agenda sains dibuat (seolah-olah) atas nama kebenaran ilmiah.

Referensi

  • Ben-David, J. (1991). Scientific Growth: Essays on the Social Organization and Ethos of Science, Berkeley: University of California Press.
  • Lenoir, T. (1997). Instituting Science: The Cultural Production of Scientific Disciplines, Stanford: Stanford University Press.
  • Merton, R. (1973) The Sociology of Science, Chicago: The University of Chicago Press.

Tinggalkan Balasan